


Kalau dilihat sekilas, Pop Mart hanya menjual mainan koleksi. Namun di balik antrean panjang di berbagai negara dan fenomena blind box yang terus viral, ada strategi bisnis yang jauh lebih menarik daripada produknya sendiri.
Yang dijual Pop Mart sebenarnya bukan sekadar figur karakter. Mereka membangun sebuah dunia yang membuat orang ingin menjadi bagiannya. Karakter seperti Labubu, Molly, SKULLPANDA, DIMOO, hingga Hirono tidak hanya hadir sebagai pajangan, tetapi memiliki cerita, kepribadian, dan identitas yang membuat penggemarnya merasa terhubung. Ketika hubungan emosional itu terbentuk, sebuah produk berubah menjadi bagian dari ekspresi diri.
Perjalanan Pop Mart pun tidak langsung meledak begitu saja. Awalnya, brand ini tumbuh dari komunitas kolektor di China. Seiring waktu, video unboxing mulai memenuhi TikTok dan Xiaohongshu. Orang-orang bukan hanya membeli produknya, tetapi juga membagikan momen saat membuka kotak yang isinya masih menjadi misteri. Rasa penasaran itu kemudian menyebar, diperkuat oleh para kreator konten dan figur publik yang ikut mengoleksinya.
Di sinilah letak strategi yang membuat Pop Mart berbeda. Yang membuat orang kembali membeli bukan semata-mata produknya, melainkan pengalaman saat membukanya. Sistem blind box menciptakan ketidakpastian. Setiap kotak menyimpan kemungkinan yang berbeda, mulai dari karakter umum hingga edisi langka yang diincar banyak kolektor. Sensasi “mungkin kali ini dapat yang dicari” menjadi alasan banyak orang kembali membeli, bahkan setelah koleksinya sudah cukup banyak.
Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di satu negara. Antrean panjang terlihat di Shanghai, Seoul, Tokyo, London, hingga New York. Pola perilakunya pun serupa: rela mengantre, membeli tanpa mengetahui isi kotaknya, lalu membagikan pengalaman tersebut di media sosial. Ketika perilaku yang sama muncul di berbagai belahan dunia, itu menandakan bahwa Pop Mart tidak sedang mengikuti tren, tetapi berhasil membangun sebuah budaya konsumsi baru.
Mereka juga memahami pentingnya menjaga antusiasme pasar. Dalam setiap seri selalu ada banyak karakter yang bisa dikoleksi, ditambah kehadiran secret edition yang jumlahnya sangat terbatas. Semakin sulit didapatkan, semakin tinggi pula keinginan orang untuk melengkapinya. Pada akhirnya, yang dikejar bukan lagi sekadar membeli satu produk, tetapi menyelesaikan sebuah koleksi.
Strategi tersebut terbukti berdampak besar terhadap bisnis. Pada 2025, Pop Mart mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba yang sangat signifikan, didorong oleh tingginya permintaan terhadap karakter-karakter andalannya. Kesuksesan ini menunjukkan bahwa nilai sebuah bisnis tidak selalu berasal dari fungsi produk, tetapi juga dari kemampuan memahami emosi, perilaku, dan alasan seseorang melakukan pembelian.
Dari Pop Mart, kita belajar bahwa konsumen tidak selalu membeli karena kebutuhan. Sering kali, mereka membeli karena cerita, pengalaman, dan perasaan yang tercipta di balik sebuah produk. Ketika sebuah brand mampu memahami hal itu, yang dibangun bukan lagi sekadar transaksi, melainkan hubungan yang membuat orang ingin kembali lagi.