Kenapa CFC Terus Laris Manis Ketika Banyak Brand Fast Food Raksasa Mulai Tumbang?

Belakangan ini, kita mulai melihat banyak brand fast food besar yang performanya tidak sekuat dulu. Di tengah kondisi itu, ada satu nama yang justru masih konsisten bahkan terus tumbuh: CFC (California Fried Chicken).

CFC sendiri sudah ada sejak 1983. Awalnya memang bagian dari waralaba luar, tapi di tahun 1989 mereka memutuskan untuk berdiri sendiri sebagai brand lokal. Keputusan yang mungkin terdengar berisiko saat itu, tapi justru jadi titik penting yang membentuk arah bisnisnya sampai sekarang.

Yang menarik, CFC tidak tumbuh dengan cara yang “ramai”. Mereka tidak terlalu agresif buka banyak outlet, juga tidak bergantung pada promo besar-besaran. Fokusnya lebih ke hal-hal yang sering luput dilihat: efisiensi, konsistensi, dan memahami konsumennya sendiri Dari menu yang disesuaikan dengan lidah lokal, harga yang tetap masuk akal, sampai cara mereka menjaga biaya operasional—semuanya terasa relevan dengan kondisi pasar saat ini. Apalagi di tengah konsumen yang makin sensitif soal harga, pendekatan seperti ini jadi terasa makin kuat.

Langkah mereka juga cukup strategis. Salah satunya lewat kolaborasi dengan KAI, dengan membuka gerai di area stasiun. Sederhana, tapi tepat sasaran—karena mereka hadir di tempat yang memang dekat dengan aktivitas harian konsumen.

Menariknya, fenomena ini tidak cuma terjadi di CFC. Brand lokal lain seperti Richeese Factory juga menunjukkan tren yang sama. Artinya, kepercayaan ke brand lokal memang sedang naik, bukan sekadar karena sentimen, tapi karena value-nya benar-benar terasa.

Dari sini, ada satu hal yang cukup jelas: untuk bisa tumbuh, tidak selalu harus ekspansi besar-besaran. Kadang, justru yang lebih penting adalah paham pasar, memaksimalkan yang sudah ada, dan tetap efisien.

Di tengah perubahan industri seperti sekarang, yang bertahan bukan selalu yang paling besar melainkan yang paling relevan. Dan sejauh ini, CFC terlihat cukup paham cara bermainnya.