Bintang Lama yang Mendadak Bersinar Lagi di Era Gen Z

Tidak banyak brand yang mampu kembali menjadi pusat perhatian setelah puluhan tahun berada di pasar. Namun itulah yang terjadi pada Onitsuka Tiger. Brand sepatu asal Jepang ini berhasil menarik perhatian generasi baru tanpa mengubah identitas yang telah dibangun sejak lama.

Yang terjadi bukan sekadar comeback, melainkan sebuah cultural moment. Di Jepang, Onitsuka Tiger kini bukan hanya menjadi brand fashion, tetapi juga bagian dari pengalaman wisata. Flagship store mereka di kawasan Ginza dipenuhi wisatawan, content creator, hingga fashion enthusiast dari berbagai negara. Orang datang bukan sekadar untuk membeli sepatu, tetapi untuk merasakan pengalaman yang telah menjadi bagian dari budaya brand tersebut.

Di saat industri sneaker selama bertahun-tahun dipenuhi desain yang besar, kompleks, dan mencolok, preferensi pasar perlahan berubah. Konsumen, terutama Gen Z, mulai mencari sesuatu yang lebih ringan, sederhana, dan mudah dipadukan dengan berbagai gaya berpakaian. Mereka tidak lagi ingin terlihat paling mencolok, tetapi tampil lebih effortless dan autentik.

Perubahan tren ini justru menjadi keuntungan bagi Onitsuka Tiger. Model seperti Mexico 66 dan Tokuten bukanlah produk baru, tetapi desain yang telah teruji oleh waktu. Siluetnya yang tipis, ringan, fleksibel, dan minimalis terasa kembali relevan di tengah perubahan selera pasar. Tanpa perlu melakukan perubahan besar, produk yang dulu dianggap klasik kini menjadi jawaban atas kebutuhan konsumen masa kini.

Kebangkitan tersebut tidak hanya terlihat di media sosial, tetapi juga tercermin pada performa bisnisnya. Sepanjang 2025, penjualan Onitsuka Tiger mencatat pertumbuhan yang signifikan, didorong oleh meningkatnya minat Gen Z, tren fashion global, dan tingginya jumlah wisatawan internasional yang berkunjung ke Jepang. Fenomena ini menunjukkan bahwa popularitas mereka bukan sekadar viral di internet, tetapi telah berubah menjadi permintaan nyata di pasar.

Di balik keberhasilannya, Onitsuka Tiger sebenarnya menjual sesuatu yang lebih dari sekadar desain sepatu. Brand ini membawa nilai-nilai khas Jepang seperti kesederhanaan, ketelitian, dan keaslian. Dipadukan dengan sentuhan nostalgia yang tetap relevan, Onitsuka Tiger berhasil menghadirkan produk yang terasa familiar, tetapi tidak pernah ketinggalan zaman.

Kisah Onitsuka Tiger menunjukkan bahwa membangun brand bukan selalu tentang mengikuti setiap tren yang muncul. Terkadang, kekuatan justru datang dari konsistensi menjaga identitas, lalu hadir kembali pada waktu yang tepat ketika pasar mulai mencari apa yang sejak dulu sudah kita miliki.

Karena pada akhirnya, tren memang selalu berputar, tetapi relevansi adalah pilihan yang dibangun melalui strategi, konsistensi, dan pemahaman terhadap perubahan perilaku konsumen.